Vaksin Anti Iri Hati

Vaksin Anti Iri Hati



BacaanKejadian 4:1-16 (Kain dan Habel)

Nas: Ayat 6-7, 9

Selama hidupnya, manusia punya kebutuhan. Menurut Abraham Maslow yang mencetuskan hierarki atau tingkatan kebutuhan manusia, ada 5 tingkat kebutuhan yang seluruh manusia perlu penuhi semasa hidupnya. Sudah menjadi natur atau panggilan alam bawah sadar manusia untuk mencari cara memenuhi setiap tingkat kebutuhan tersebut. Semakin seseorang merasa belum mencapai tingkat kebutuhan tertentu, maka insting/nalurinya akan terus termotivasi untuk mencapai pemenuhan kebutuhan itu. Pada 2 tingkatan pertama, Kebutuhan Fisiologis dan Rasa Aman, dapat dikatakan bahwa manusia tidak memenuhi kebutuhan tersebut maka akan kesulitan menjalani hari-harinya sepanjang umurnya. Jadi, kebutuhan (needs), adalah sesuatu yang harus manusia penuhi/miliki demi kelangsungan hidup, pencapaian hidup dan kebahagiaan.

Ada lagi yang disebut dengan keinginan. Keinginan (wants) dinilai beda tipis dengan kebutuhan, padahal motivasi yang melandasi dua hal ini sangat berbeda. Lain halnya dengan kebutuhan yang mendorong manusia harus memiliki sesuatu demi kelangsungan hidupnya, keinginan adalah sebuah hasrat (desire, wish) akan sesuatu. Keinginan berbicara tentang sesuatu yang ‘mungkin’ kita ingin miliki, artinya kalau ada ya bagus tapi kalau tidak ada juga tidak akan mengganggu kelangsungan hidup kita. Akan tetapi, hampir tidak mungkin manusia tidak memiliki keinginan di samping kebutuhan mereka. Misalnya, sudah kenyang tapi masih ingin ngemil. Atau sudah punya 5 pasang sepatu tapi masih ingin beli lagi.

Jadi, sebenarnya keinginan ini salah gak sih? Keinginan manusia ini punya dua sisi. Keinginan hati kita bisa menjadi sahabat sekaligus musuh kita. Keinginan kita itu bisa menjadi baik dan bermanfaat jika apa yang kita inginkan mengarahkan kita kepada hal yang baik dan benar dan disertai dengan respon yang benar juga terhadap keinginan itu. Kadang-kadang keinginan muncul tanpa kita sadari, entah itu keinginan yang baik atau jahat (berbuat dosa), tetapi kemudian apa yang akan kita lakukan dengan keinginan kita itu tergantung pada respon kita.

Contoh, seorang atlet sudah berhasil memenangkan sebuah perlombaan. Dan dia ingin supaya bisa menang juga di perlombaan-perlombaan berikutnya dan menjadi tak terkalahkan oleh atlet manapun. Pada mulanya atlet ini memakai cara yang benar untuk memenuhi hasrat keinginannya untuk menang terus, ia semakin gigih berlatih, menjaga pola hidup sehat, tidak malas dan fokus melatih skill-nya. Tapi kemudian satu kali ia kalah dalam sebuah perlombaan. Kali ini, untuk memenuhi keinginannya menang di perlombaan selanjutnya, ia memakai doping/obat-obatan ilegal untuk menambah stamina, melakukan tindakan ilegal seperti mencederai lawannya, melakukan pencemaran nama baik terhadap atlet lain untuk menjatuhkan mental lawannya, atau mungkin saja dia menyogok panitia lomba supaya ia menang. Keinginan menangnya direspon dengan salah sehingga itu membuat sang atlet ambisius, terjerumus obat ilegal, iri hati dan kebencian kepada lawan-lawannya.

Nah, kisah Kain dan Habel memberi contoh kepada kita tentang keinginan. Dikatakan bahwa Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahan Habel, tetapi Kain dan korban persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan. Akhirnya Kain melihat Habel adiknya kok lebih diberkati hidupnya, sebab manusia yang diindahkan Tuhan sudahlah tentu hidupnya damai sejahtera dan diberkati karena Habel berkenan di mata Tuhan. Pada momen ini, timbullah keinginan dalam hati Kain, ia juga menginginkan apa yang Habel miliki itu: Berkat Tuhan. Kain ingin juga diindahkan Tuhan, Kain ingin juga hidupnya penuh berkat, Kain ingin juga persembahannya diterima Tuhan, Kain ingin juga dihargai oleh Tuhan dan terutama adiknya, secara Kain ini seorang kakak, lebih tua dan seharusnya lebih pantas untuk memiliki lebih daripada yang adiknya miliki. Keinginan Kain untuk menikmati berkat Tuhan itu baik. Tetapi, respon Kain terhadap keinginannya yang salah. Keinginan kain pada akhirnya membuahkan yang namanya IRI HATI.

Bertrand Russell, seorang filsuf dan peraih hadiah Nobel Sastra, mengatakan bahwa iri hati adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan. Orang yang iri hati tidak hanya menyebabkan ketidakbahagiaan bagi dirinya sendiri, orang tersebut bahkan mengharapkan kemalangan orang lain. Orang yang iri hati itu memelihara kebencian yang disebabkan karena orang lain memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya, dan ia menginginkan bagi dirinya sendiri.

Pada kasus Kain dan Habel, Kain iri kepada Habel karena Habel dan korban persembahannya diindahkan Tuhan. Kain iri karena hidup Habel diberkati Tuhan. Karena iri hati ini, Kain akhirnya membenci adiknya sendiri lalu membunuh Habel. Kain pikir dia akan menerima berkat bagian Habel karena Habel telah mati, tetapi Kain malah dikutuk oleh Tuhan. 

Lebih berbahaya lagi, iri hati ini bisa menular loh. Misalnya seseorang yang iri hati menyebarkan pandangannya kepada teman-teman sekelompoknya, otomatis temannya akan menyerap berita dan pandangan dari orang yang iri hati ini kemudian berpotensi untuk menjadi iri hati juga kepada orang yang dimaksud.

Lalu, bagaimana supaya kita sebagai anak-anak Tuhan terbebas dari virus iri hati ini? Nah, Allah punya 2 kombinasi vaksin anti iri hati nih yang bisa mencegah kita menjadi orang yang gampang iri hati.


  1. Peliharalah sukacita setiap waktu (ay. 6-7)

Tadi dikatakan bahwa iri hati ini sumber ketidakbahagiaan, bahkan bisa mendatangkan ketidakbahagiaan juga bagi orang lain. Hubungan kita dengan Tuhan bisa rusak, bahkan hubungan dengan sesama akan penuh dengan perselisihan. Mari kita periksa kebiasaan kita sehari-hari, apabila kita mudah bertengkar dengan saudara, orang tua, dan teman-teman kita, kita mudah marah, sering bersungut-sungut dan bahkan kita senang sekali kalau melihat ada orang lain yang berkelahi atau saling memaki, maka kita telah kehilangan sukacita dalam hati kita. 

Saat Kain kehilangan sukacita dalam hari-harinya, Kain tidak bisa menjalani harinya dengan damai. Sekalipun Kain bekerja dan memberikan korban persembahan, Kain melakukannya dengan “hati panas dan muka yang muram”. 

Apa tanda orang bersukacita? Hati gembira dan muka yang berseri-seri. Karena kehilangan sukacita, maka respon Kain terhadap keinginannya untuk mendapat berkat Tuhan menjadi sungut-sungut. Alih-alih dia memperbaiki sikap hatinya di hadapan Tuhan, malahan Kain memilih untuk membiarkan marah (dosa) menguasai hatinya.

Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan ingin mewujudkan keinginan kita atau tidak. Entah itu keinginan yang baik maupun yang salah yang membawa kepada dosa. Iri hati ini adalah penyakit hati, jadi kita harus menguatkan juga hati kita yaitu dengan sukacita. Saat hati kita dipenuhi sukacita, maka respon yang akan kita pilih adalah respon untuk mewujudkan HANYA keinginan yang baik, yang benar, yang berkenan di mata Tuhan dan dengan cara yang BENAR juga. Karena orang yang penuh sukacita akan selalu menginginkan situasi yang sukacita dan penuh damai juga. Dan orang yang penuh sukacita akan selalu punya perasaan CUKUP dan BERSYUKUR. Sehingga tidak ada kesempatan bagi orang yang bersukacita untuk IRI HATI dan menginginkan milik orang lain karena apa yang ia miliki sudah CUKUP dan ia terima dengan UCAPAN SYUKUR. Setiap manusia sudah ditentukan bagian berkatnya oleh Allah, dan berkat dari Allah tidak akan pernah tertukar antara kita dengan orang lain. Belajarlah bersukacita dengan apa yang Tuhan berikan dan katakan "Terima kasih Tuhan!". Jangan IRI HATI.

Lalu, bagaimana sih caranya supaya kita bisa terus memenuhi hati kita dengan sukacita? Apalagi tantangan dan masalah hidup setiap hari ada. Nah, cara yang tepat adalah dengan selalu dekat kepada sumber sukacita sejati, Tuhan Yesus. Saat kita mampu memelihara hubungan yang dekat dengan Tuhan Yesus, kita pun akan mampu selalu berdamai dengan sesama kita. Roh yang dari pada Tuhan berdiam dalam hati kita sehingga mau ada tantangan apapun kita akan selalu ingat bahwa Sang Sumber Sukacita Sejati ada bersama kita.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah kata bersukacita atau chairo, memiliki pengertian bukan sukacita yang sifatnya sementara karena situasi yang menyenangkan atau dalam kondisi sukses. Sukacita didapat bukan dari luar, tetapi dari dalam hati yang berasal dari Tuhan. Tuhan adalah sumber sukacita sejati yang tidak terpengaruh oleh kondisi luar dan tidak dapat dirampas oleh siapa pun sehingga kita dapat terbebas virus IRI HATI itu.

"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13)


  1. Tumbuhkanlah kasih dalam hubungan dengan sesama (ay.9)

Kain telah gagal memelihara kasihnya kepada Allah bahkan kepada adiknya sendiri, Habel. Ketika Allah bertanya kepada Kain di mana Habel (ay.9), Kain menjawab “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” jawaban Kain ini menunjukkan telah hilangnya kasih Kain kepada Allah dan kepada Habel.

“Tidak tahu!” adalah jawaban yang tidak pantas terlebih-lebih kepada Allah yang Maha Tahu dan berkuasa. “Apakah aku penjaga adikku?” tentu saja Kain seorang kakak sudah seharusnya menjaga adiknya seperti kisah kakak & adik di Amerika waktu itu yang melindungi adiknya dari serangan anjing ganas. Karena Kain telah terjangkit virus IRI HATI ini, hatinya rusak dan kotor. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri dan bahkan berbuat jahat. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16)

Sebab itu, hendaknya kita memenuhi hati kita dengan kasih, sehingga tidak ada tempat bagi iri hati menguasai diri kita. “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.” (Yakobus 4:2 TB)

Berdoalah kepada Tuhan agar kasih-Nya menetap dan menguasai hati kita. Kenapa sepenting itu berdoa kepada Tuhan agar kita beroleh kasih? Karena itu yang Tuhan kehendaki! Apa 2 hukum terutama Allah kepada manusia? “Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:38-39)

Kasih itu obat dari segala macam obat. Ada orang yang sakit-sakitan hanya karena menyimpan iri hati, kedengkian, kemarahan, dan kebencian. Saat ia melepaskan semua penyakit hatinya itu, hatinya pulih bahkan hubungannya dengan sesamanya juga pulih, harmonis, dan berbahagia. Tidak mungkin seseorang bisa bilang ia berbahagia tapi dalam hati ia juga membenci. Tidak mungkin dari hati yang sama seseorang mengasihi Tuhan tapi membenci sesamanya. Artinya di situ masih ada yang belum beres dengan hatinya.

Gara-gara penyakit hati pun orang gampang banget marah dan bertengkar loh. Ada istilah “duh gw situasinya lagi ‘senggol-bacok’ nih!” Artinya, “lo senggol gw, gw bacok lo”. Gak ada damai di hatinya, orang salah sedikit eh dia ngamuk. Maka dari itu kalau kita mau punya hubungan yang damai dengan kakak-adik, orang tua, teman, lawan2 pesaing kita dalam kompetisi, bahkan dengan orang yang lebih dari pada kita, ayo kita tumbuhkan KASIH SEJATI DARI ALLAH dalam hati kita.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong" (1 Korintus 13:4). Kasih dari Allah akan memampukan kita bermurah hati dengan sesama, menjalin persahabatan dan menjauhkan iri hati.

Mari mulai dari sekarang kita jaga hati kita, kita VAKSINASI HATI kita dengan SUKACITA dan KASIH dari Allah Bapa kita di sorga. Jangan lagi iri hati, menginginkan apa yang orang lain miliki, tapi mari kita sibukkan hari-hari kita untuk mengejar perkenanan Tuhan.


Tuhan Yesus memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah