Dialog Pikiran: Kebahagiaan

Hai, Christine. Aku menyapa diriku sendiri. Jika suatu hari kamu lagi-lagi merasa insecure, aku harap kamu membaca tulisan ini. Ini dari aku versi lamamu.

----------

Aku percaya bahwa hidup bahagia itu harus. Aku juga percaya bahwa hidup yang berdampak itu jauh lebih baik dan itu yang membuat hidupmu tidak sia-sia, dan dengan itu kamu pun tau apa tujuanmu lahir di dunia ini. Tapi, sampai umur 31 ini aku masih sering bertanya tentang tujuan hidupku.

Langsung saja pikiranku berkelana. Keliatannya aku sudah melalukan banyak sekali hal selama perjalanan hidupku, dari mulai hal-hal untuk keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan untuk diriku sendiri. Keliatannya sukses, aku cukup bnyak bergaul dengan banyak orang dan apa yang aku kerjakan hampir selalu baik. Tapi begitu kembali ke realita, ke keadaan hari ini, aku melihat ke seklilingku di dalam rumah, dalam keluargaku, dalam pekerjaan dan pelayananku, ternyata hal-hal yang selama ini aku kerjaakan feels like nothing. Like "so what now??" Ga ada buah-buah yang kayaknya berdampak begitu besar dari perjalanan-perjalananku sebelumnya.

Apalagi begitu compare dengan cerita-cerita kesuksesan wanita lain di luar sana. Merasa bahwa oh ternyata dirimu yang kamu pikir hebat selama ini, gak ada apa-apanya. Bahkan kalau sampai hari ini orang lain tidak mencari atau mengingat atau mencoba menyapamu lagi, artinya you are not that worth.

Sampai-sampai aku berpikir aku sudah membahagiakan orang sekitarku belom sih, bahkan apa aku sudah membahagiakan diriku sendiri? Standar-standar wanita bahagia dan sukses di luar sana ikut menjustifikasi perasaan dan pikiranku ini. 

Tapi, pikiranku sendiri kembali mengingatkan bahwa versi bahagia setiap orang berbeda. Tiap orang melalui proses mencapai kebajagiaannya masing-masing dengan hasil yang berbeda di waktu yang tidak sama. Dan tidak ada yang berhak menghakimi bahwa orang lain benar dan aku salah, itu berlebihan dan aku merasa cukup. I thank God for what I AM today.

Dalam keberadaan dan kondisiku hari ini, saat ini, aku bahagia. Betul sekarang aku dalam kondisi aku ingin sendiri, menutup diri dari kehidupan sosial yang terlalu luas, dan ini menyenangkan untukku. Di tahap ini justru aku menemukan kebahagiaan versi diriku sendiri. Di mana aku mulai nyaman dengan keberadaan dan keadaanku, aku mulai nyaman dengan rumah dan keluargaku, aku mulai nyaman dengan pilihan-pilihan yang aku ambil sekalipun kecil tapi membuat aku secure. Aku belajar mengenal tubuhku dan mauku. Aku tidak perlu terus jadi people pleaser, tapi aku pleasing diriku sendiri dengan versiku. Aku bisa mengungkapkan "ke-aku-anku" dengan cara seperti ini. Aku mulai membangun batasan untuk melindungi diriku dari perasaan insecure.

Bahagia versiku saat ini adalah kedamaian dan kenyamanan, yang betul-betul sifatnya personal, sederhana, tak merugikan siapapun. Aku bisa berdamai dengan pikiranku serta berteman dengan jiwaku sendiri, berdamai dengan tubuhku dan tidak perlu memaksakannya untuk melakukan ini dan itu yang membuatku tidak nyaman, berdamai dengan keluargaku dalam berbagai hal, berdamai dengan isi rumahku yang dulu aku biarkan berantakan dan dipenuhi barang tidak penting, berdamai dengan keluargaku bahwa aku tidak perlu dengan lelah menunjukkan versi terbaik diriku tapi apa adanya saja bahkan tidak lagi menuntut hal-hal yang dianggap "seharusnya", berdamai dengan kesehatanku, juga bahkan merasakan damai dalam hubunganku dengan Tuhan Yesus. I think I'm starting becoming happy from the root.

Aku juga bahagia karena aku bisa menentukan pilihanku sendiri bukan jadi orang yang ikut-ikutan. Aku juga bahagia karena sekalipun tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk orang sekitarku bahkan mungkin aku tidak berdampak apa-apa, tapi aku tau aku mengerjakan bagianku. Tidak perlu aku merasa harus mengerjakan seperti apa yang orang lain kerjakan, selama apa yang saat ini jadi bagianku bisa aku kerjakan dengan benar, selama apa yang akan datang bisa aku hadapi, selama ada orang-orang di sampingku yang mengasihi aku menolong aku melalui hal-hal yang mungkin bagi orang lain tidak ada apa-apanya, dan aku bahagia karena itu semua. 

Bahagia versi aku adalah aku yang menentukannya, keputusanku, anugerah yang aku miliki. Aku percaya aku tidak harus melakukan ini dan itu untuk orang lain melihat aku berdampak. Aku mau melatih diriku untuk setia mengerjakan bagianku saja dengan segala anugerah yang Tuhan berikan untukku. Menjadi dampak atau membahagiakan orang lain bukan lagi jadi tugas utamaku, melainkan itu anugerah dari sang Pencipta. Karena hal yang membahagiakan buat kita, belum tentu membahagiakan orang lain. Orang lain merasa bahagia atau tidak pun tergantung derajat kebahagiaan mereka dan anugerah dari Tuhan apakah mereka akan merasa bahagia atau tidak. Yang lebih penting lagi dari itu, aku mau terus belajar bahagia melihat orang lain bahagia. Kebahagiaan yang sungguh bisa dirasakan bersama adalah kebahagiaan yang memberi dampak seperti itu.

Aku mencintai versiku hari ini. Dan akan terus bangga dengan versi-versiku di tahun berikutnya. Suatu hari nanti aku juga akan tetap bahagia dengan diriku di veri yang lain. Future Christine, putuskanlah untuk bahagia hari ini. Nikmati anugerah kebahagiaan itu dengan ucapan syukur :)


Terima kasih blog sudah memberi ruang untukku membagikan hal ini. Overthinking ku hilang sesudah menuliskan semua ini. Aku mau bahagia hari ini, dengan versiku :)


Bye

Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati