Booster Kepemimpinan
Nas Alkitab: Yohanes 3: 16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Latar belakang :
Yohanes 3 menceritakan percakapan antara Yesus dengan seorang yang bernama Nikodemus di Yerusalem dalam masa perayaan Paskah orang Yahudi.
Jawaban Yesus terhadap pertanyaan (rasa penasaran) Nikodemus berisi teguran, pertanda sekaligus pesan yang relevan bukan hanya kepada sang pemimpin agama Yahudi tetapi relevan juga dengan kondisi pelayanan saat ini, misalnya sebagai pemimpin dalam organisasi pelayanan.
Seorang pemimpin idealnya mampu membagikan pengetahuan, kemampuan, pengalaman, dan membantu orang-orang yang dipimpin untuk berkembang. Dalam konteks pelayanan, “meletakkan dasar dan membangun, menanam dan menyiram injil Kristus.”
Tantangan:
Pemimpin masa kini menghadapi banyak tantangan sehingga kepemimpinannya tidak berdampak (tidak berbuah). Akibat yang ditimbulkan adalah kondisi organisasi yang stagnan, berjalan di tempat, tujuan yang tidak tercapai, perselisihan, bahkan kehilangan jiwa-jiwa sehingga tidak ada bibit pemimpin baru. Akibat-akibat yang muncul itu sering kali bukan karena faktor eksternal dari organisasi pemimpin, melainkan krisis pada identitasnya sebagai pemimpin.
Resolusi:
Pada kesempatan ini nas yang menjadi fokus adalah ayat 16. Untuk mencegah krisis pada identitas seorang pemimpin, maka Yesus menghendaki kita untuk “memberi booster” kepada diri kita. Sehingga sebagai pemimpin kita bisa menghindari akibat-akibat yang tidak diharapkan. Ada tiga hal yang dapat diteladani dari kepemimpinan Yesus melalui ayat ini.
1. Milikilah kasih yang luas
Penjelasan
Kasih Allah begitu besar, bahkan teramat besar karena sanggup untuk mengasihi (seluruh isi) dunia ini. Kasih Allah tidak bersyarat bagi siapapun manusia di dunia ini.
Perbedaan dengan kasih manusia adalah manusia cenderung punya kasih yang bersyarat. Seseorang akan lebih mengasihi seseorang yang juga mengasihinya atau yang mendatangkan kesenangan atau manfaat.
Ilustrasi
Ester, adalah orang yang Allah percayakan menjadi seorang Ratu. Sebagai isteri seorang Raja, ia tidak hanya mementingkan dan memikirkan dirinya sendiri yang sudah hidup enak sebagai seorang Ratu. Kasih Ester yang sangat luas ia tunjukkan ketika ia begitu amat memikirkan nasib bangsanya di luar istananya yang sedang menghadapi situasi sangat sulit. Ester memberi teladan kepada kita semua bahwa kekuatan kasih yang amat luas berdampak sangat besar menyelamatkan banyak jiwa.
Aplikasi
Dekat pada sumber kasih sejati, Allah, agar tiada pernah berkekurangan kasih yang tidak terbatas
Belajar untuk peka melihat kebutuhan serta pergumulan orang lain
Dengan kasih yang luas dan tak terbatas maka kita tidak mementingkan diri sendiri dan dapat hidup bersama
Cermati perbedaan/perubahan situasi dari perbuatan mengasihi itu
2. Rela berkorban bagi sesama
Penjelasan
“Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” adalah ungkapan kerelaan Allah yang bermakna ganda:
Allah Bapa, Sang Raja yang bertakhta, rela mengirim Anak Tunggal-Nya ke dunia yang ‘gelap’ dalam rupa seorang hamba untuk menjadi sama seperti manusia.
Allah mengaruniakan Anak-Nya sebagai korban penghapus dosa di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan.
Yesus memberi teladan bahwa kita tidak ada alasan untuk tidak rela berkorban bagi sesama, karena Allah saja rela berkorban sedemikian rupa untuk manusia yang bahkan tidak mengasihi dan mengenalNya.
Kasih yang luas yang bersumber dari Allah akan memampukan kita untuk membagikan segala yang kita miliki untuk kepentingan bersama dan agar dapat melangkah bersama-sama demi mencapai tujuan bersama.
Ilustrasi
Cara hidup jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 2:44-47)
44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47 sambil memuji Allah.
Aplikasi
Jangan diam, bergerak, berbuat sesuatu
Menjadi rela berkorban tidak ditentukan oleh faktor eksternal dari diri kita (apa yang kita miliki, waktu yang tersedia, atau bahkan identitas orang yang kita layani), melainkan siapa kita sesungguhnya. Ketika kita identitas kita adalah seorang pemimpin, anak Tuhan, maka sudah seharusnya berbagi dengan kerelaan hati menjadi kebiasaan kita.
Sebagai pemimpin, mari belajar untuk rela berkorban dengan memberikan waktu, pikiran, tenaga, pengetahuan, kemampuan, ide, inspirasi dan dukungan moral yang kita miliki tanpa hitung-hitungan.
3. Bertekun membawa orang lain percaya kepada Allah
Penjelasan
Dengan kasih dan pengorbanan Allah, manusia yang tadinya merupakan ‘budak dosa’ telah ‘dibebaskan’ sehingga tidak lagi berhutang kepada daging, melainkan hidup oleh karena Roh (Roma 8:12)
Penebusan manusia oleh Allah yang membuat manusia ‘bebas’, bukan supaya manusia bisa bebas untuk hidup menurut kehendak dirinya sendiri. Sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan itu, maka manusia harus mengerjakan keselamatan yang ia peroleh sepanjang hidupnya.
Matius 28:19-20
Ilustrasi
Paulus menceritakan pertobatan dan panggilannya di hadapan Raja Agripa (Kisah Para Rasul 26). Paulus telah menerima keselamatan yang dari Allah padahal hidupnya sebelumnya telah rusak bahkan ia jugalah yang membunuh pengikut Kristus. Karena kesadaran Paulus akan anugerah keselamatan yang telah ia peroleh dengan cuma-cuma, maka ia memakai hidupnya yang ‘bebas’ untuk menjadi ‘hamba’ Tuhan. Dengan tanpa takut dan gigih, Paulus memberitakan injil dan kesaksian pertobatannya di mana-mana, bahkan di hadapan seorang raja sekalipun, Raja Agripa.
Aplikasi
Pemimpin yang lahir dari Roh Allah tidak boleh egois hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan menanamkan di dalam diri semangat untuk meneruskan anugerah keselamatan itu kepada sebanyak-banyaknya jiwa yang tersesat.
Dalam melakukan peranannya sebagai pemimpin, maka ia bukan hanya sibuk mengerjakan kewajiban-kewajiban organisasi/acara atau bahkan sibuk mengajarkan/memberi pengaruh negatif dalam pergaulan, tetapi harus selalu mengingatkan diri sendiri bahwa orang-orang yang dipimpin tidak boleh sampai mengalami kebinasaan. Sehingga dengan tekun terus membimbing orang-orang yang dipimpinnya sampai dengan sungguh percaya kepada Allah dan beroleh hidup yang kekal.
Kesimpulan
Dalam setiap apapun peran yang Allah percayakan kepada kita saat ini, khususnya sebagai pemimpin baik di pelayanan, keluarga, pekerjaan atau lingkungan tempat tinggal, ada banyak jiwa yang membutuhkan terang dan kehangatan kasih Allah. Mari berakar di dalam Allah sehingga Ia memampukan kita untuk (1) memiliki kasih yang luas, (2) sikap rela berkorban bagi sesama , dan kesetiaan untuk terus (3) bertekun membawa jiwa-jiwa itu sehingga percaya kepada Allah.
Tuhan Yesus memberkati
Comments
Post a Comment