Fokus Hidup & Manajemen Talenta

Bacaan : Matius 25 : 14 – 39

”Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Rangkuman: Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia adalah dari Allah, oleh Allah dan kepada Allah (kecuali dosa manusia). Kesuksesan hidup manusia tidak ada apa²nya tanpa Allah dan tidak ada gunanya kalau bukan untuk Allah. Allah sudah (terlalu) banyak memberikan kepada manusia, sudah sepantasnya juga manusia selalu kembali/mengembalikan kepada Allah. Jika manusia telah hidup setia kepada Allah, mengelola berkat, menangkap kesempatan, dan mendayagunakan kemampuan yang dari Allah, sudah tentu hidupnya akan berkenan bagi Allah dan manusia pun akan mendapati hidup yang sejahtera sepanjang umurnya di bumi.


Aplikasi:

1.    Apa yang menjadi fokus hidup saya saat ini?

  • Fokus hidup saya saat ini bisa dikatakan belum jelas. Masih seringkali merenungkan apa sesungguhnya panggilan Tuhan di hidup saya dan bertanya kepada Tuhan apa tujuan Tuhan menciptakan serta menghadirkan saya di dunia ini. Tapi yang sering kali merema dalam hati & pikiran saya adalah: senangkanlah hati Tuhan. Saya berusaha dengan apapun yang saya dapatkan dari Tuhan saat ini, saya mau tujukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Walau belun spesifik, tapi saya sedang berusaha memfokuskan diri menyenangkan Tuhan lewat apapun yang saya bisa.

2.    Apa saja sikap yang harus saya perbaiki atas harta, kemampuan dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya?

  • Beberapa kali saya masih mengkhawatirkan akan berkat yang Tuhan percayakan kepada keluarga saya. Mulai berhitung²an dengan versi manusia untuk "menahan" harta supaya tidak segera habis. Tapi saya ditegur hari ini, untuk minta hikmat sama Tuhan bagaimana supaya mengelola berkat dari Tuhan bukan hanya khawatir. Dan saya ingin  belajar untuk dimampukan menabur lebih banyak lagi, selain harta, saya juga ingin menabur dengan segala kemampuan yang Tuhan sudah anugerahkan kepada saya. Tuhan kasih lihat bahwa waktu-waktu sekarang ini adalah kesempatan yang tepat. Tidak mau saya lewatkan lagi.

3.    Apa saja yang saya investasi saat ini untuk menunjukkan kesetiaan saya kepada Tuhan?

  • Hati saya, diri saya dan waktu saya. Agar Tuhan pakai sesuai kehendakNya.

Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati