Tuhan Melihat ke Dalam Hati
Tuhan Melihat ke Dalam Hati
Bacaan: Kejadian 4:1-16 (Kain dan Habel)
| Pic by Giulia Bertelli |
Bulan Juli 2021, tahun lalu, ada sebuah berita menggemparkan di Amerika. Bridger, anak laki-laki berusia 9 tahun dari Cheyenne, Wyoming, Amerika, melakukan aksi ekstrim untuk menyelamatkan adik perempuannya yang masih berusia 1 tahun dari serangan anjing German Shepherd. Waktu Bridger mendapati adiknya akan diserang anjing itu, Bridger menghalangi anjing tersebut, dan tentu saja Bridger menjadi sasaran dari serangan anjing yang marah itu. Anjing itu menyerang, mengigit pipi kiri Bridger lalu meninggalkan Bridger dengan luka yang sangat parah. Bahkan, Bridger harus menjalani 2 jam operasi untuk mendapatkan lebih dari 90 jahitan pada pipinya.
Kisah heroik ini menginspirasi banyak orang sekaligus membuat banyak orang kagum. Sudah tentu orang tuanya serta adiknya sangat kagum kepada Bridger karena ia sangat berani, bahkan rela mengorbankan dirinya untuk melindungi adik satu-satunya yang ia sangat sayangi. Bridger tidak peduli apa yang akan ia alami, karena baginya menyelamatkan adiknya adalah hal pertama yang saat itu harus ia lakukan. Reflek yang sangat alamiah dalam hubungan kakak dan adik yang sewajarnya.
Hari ini kita juga akan membahas kisah tentang Kakak dan Adik yang ada di dalam kitab Kejadian. Tapi, bukan aksi heroik yang bisa kita tiru, melainkan pelajaran berharga serta pesan Allah lewat kejadian ini.
Kalau dalam kisah Bridger dan adiknya bertemakan “hero”, sang Kakak ingin menyelamatkan sang Adik tercinta. Dalam kisah Kain dan Habel, sang Kakak mencabut nyawa sang adik. Ironis, dan sudah pasti BUKAN INSPIRASI untuk siapapun.
Kisah Kain dan Habel dapat kita baca dengan lengkap di dalam Alkitab (Kejadian 4 : 1-16).
Nah, kisah Kain dan Habel ini epic. Gak dicatat loh kalo Habel ini nge-bully kakaknya, atau Habel ini ngejahatin Kakaknya. Ehhh kaget ya tiba2, ga ada angin ga ada hujan, Kain mukul adeknya, sampai membunuhnya.
Apa yang Allah ingin kita pelajari dari kisah tragis ini? Nah, ada pesan Allah untuk kita, anak-anak Tuhan, yang Allah ingin kita mengerti hari ini. Yaitu tentang cara Allah memandang sesuatu itu sangat berbeda dari cara pandang manusia.
Diceritakan pada ayat 3-4b, Kain dan Habel kedua kaka beradik ini pekerja keras. Dari hasil kerja keras mereka, mereka dikatakan mempersembahkan korban persembahan, yaitu hasil usaha mereka kepada Allah. Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah yang ia garap, sedangkan Habel mempersembahkan anak sulung kambing domba dan bagian lemak-lemaknya.
Sampai sini, semua berjalan baik ya.. Bahkan bisa jadi apa yg mereka lakukan ini jauh lebih baik dari yang kita lakukan. Nah, dari sudut pandang manusia, Kain dan Habel ini udah bener nih. Korban persembahannya mah cakeppp, terus rajin pula kasih korban persembahan buat Allah. Wah taat sekali mereka.
Tapi… yang Allah lihat ternyata berbeda. Dalam ayat 4b - 6, tertulis di sana bahwa Allah lebih mengindahkan/menerima korban persembahan dari Habel si adik, daripada dari Kain. “Kok keliatannya Allah curang sih? Kenapa milih-milih gitu?”
Okey, dalam konteks ini betul, Allah memilih. Kita sudah tau ya memilih korban persembahan siapa. Akan tetapi, Allah mau kita mengerti hari ini ALASAN kenapa Allah lebih mengindahkan korban persembahan Habel? Karena ALLAH MELIHAT KE DALAM HATI. “Lord looks at THE HEART”.
Hati kain PANAS, mukanya MURAM. Sungut-sungut, ngedumel, gondok.. Ya Kain akhirnya menunjukkan sikap ini begitu ia tau korban persembahannya gak diindahkan Allah.
Tuhan tanya “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?” di sini Kain gak ngomong sama Allah, “Hey Allah, panas ni hatiku, muram nih mukaku liat nih. Allah melihat semuanya, melihat bagaimana Kain panas hati. Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan “Why are you angry? Why is your face downcast?” Downcast seperti dejected yang artinya unhappy, disappointed, or without hope. Gak seneng Kain, KECEWA, mukanya menunjukkan muka2 madesu (masa depan suram) without hope.
Jadi persoalannya dalam kasus Kain dan Habel ini adalah tentang hati mereka. rupanya, Allah melihat , Allah kita ini Allah yang memperhatikan. Allah melihat: BAGAIMANA HATI KAIN SAAT MEMPERSEMBAHKAN.
Bagi Kain, jumlah dan kualitas korban persembahannya sangat penting.
Bagi Kain, dengan sombongnya, ia terlalu yakin kualitas korban persembahannya pasti disukai siapapun, termasuk Allah.
Bagi Kain, dengan egoisnya, ia mengharapkan bahwa ia akan mendapatkan balasan dari Allah, pamrih, ia memberi dengan mengharapkan feedback yang ia inginkan.
Bagi Kain, apa yang ia berikan kepada Allah bukan semata-mata ingin MENYENANGKAN TUHAN, tapi menyenangkan hatinya sendiri.
Saking sibuknya akan hal-hal itu, Kain lupa bahwa dalam memberikan korban persembahan bagi Allah, yang terutama adalah KERELAAN HATI dan UCAPAN SYUKUR.
Allah tidak menemukan HATI YANG RELA DAN BERSYUKUR dari korban persembahan Kain. kain sibuk melihat RUPA, tapi lupa melihat HATI nya sendiri.
Dalam 1 Samuel 16:7, Allah berkata kepada Samuel demikian “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Berapa banyak di antara kita saat ini juga seperti Kain. kita dengan sombong berkata “Aku sudah melakukan ini dan itu, harusnya kamu makasih. Aku sudah melakukan ini dan itu, harusnya Tuhan bales jugadong. Aku sudah memberikan ini dan itu buat org tua, adek/kakak, teman-teman atau org2 sekitar kita, KOK MALAH GINI YANG AKU ALAMI ATAU AKU DAPATKAN?”
Terlalu sibuk kita itung-itungan dalam memberi. Dari mulai memberi dalam bentuk waktu kita, tenaga kita, pikiran kita, apalagi uang kita. Hmmmm harus jelas banget ini itung-itungannya, kalo gue kagak cuan ya ngapain, kalo dia juga gak bakal bales ato nolong gw balik ya ngapain gw tolong, wong gue kagak kenal juga siapa dia ngapain gue kasih.
Padahal kata firman Tuhan:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” – Kolose 3:23
Ucapan Syukur
Allah tidak peduli berapa banyak yang kita bisa berikan, atau apa yang bisa kita lakukan, tapi Allah memperhitungkan SIKAP HATI kita. Kalau saja Kain bersungguh2 dan rela hati dalam korban persembahannya, dan memberikannya segenap hatiiii seperti bagaimana Habel memberikan korban persembahannya, Allah pasti mengindahkan dan Allah menyukai sikap hati seperti ini.
Atau seberapa banyak di antara kita kalo kita menyelesaikan tugas-tugas kita, apakah kita melakukannya dengan ucapan syukur? Atau kita masih juga ngedumel, sungut-sungut, kesel harus ngelakuin tugas itu, bahkan ogah-ogahan. TAPI kita mengharapkan hasil yang setimpal dg usaha kita yang tidak dengan ucapan syukur itu? Begitu ada orang lain yang dapet hasil lebih baik, makin jadi kita julid, muka kita udah gak bisa diatur saking keselnya, ehh ditambah marah sama org lain atau bakan marah sama Tuhan!
Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:18 mengingatkan kita:
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Mari hari ini kita belajar untuk memiliki SIKAP HATI yang benar di hadapan Allah. Sekalipun orang di sekitar kita liat “eh kita baik ya, eh kita nolong ya, wah kita humble banget”, tapi Allah melihat ke dalam hati kita. Allah Pencipta kita yang maha mulia, sanggup melihat isi hati kita, niatan kita, bagaimana sikap hati kita baik saat memberi, saat mengerjakan tugas-tugas kita, saat bekerja, saat menolong, saat kita bicara sama orang lain bahkan saat kita bermain. Allah suka kepada anak-anakNya yang senantiasa punya SIKAP HATI yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.
Dalam ayat 7 Allah berkata:
"Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?”
Saat kita punya kerelaan hati dan melakukan segala sesuatu dengan mengucap syukur, wajah kita akan berseri dan kita akan menunjukkan ekspresi yang juga menyengangkan Allah serta manusia.
Hati hati dengan SIKAP HATI KITA, saat kita sudah mulai bersungut-sungut., ngedumel sedikit aja, ada Iblis yang sudah ngintip siap2 membawa kita jatuh dalam dosa .
Dalam ayat 7 dikatakan
“Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya”
Allah menggambarkan dosa sebagai kekuatan menggoda yang, seperti binatang buas, siap menerkam dan menelan. Namun, Allah juga memberikan kemampuan kepada manusia untuk melawan dan menolak dosa dengan tunduk pada firman-Nya, dengan bantuan kasih karunia-Nya. Manusialah yang memilih apakah mereka akan menyerah kepada dosa atau mengalahkannya . Kain memilih kalah terhadap dosa lalu membunuh adiknya akibat iri hatinya.
Amsal 4:23 berkata:
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Allah kita Allah yang perhatian, mataNya tidak pernah tertutup melihat kita, dan hatiNya dengan kasih yang begitu luas tidak pernah berhenti memberkati dan menolong kita saat SIKAP HATI kita menyenangkan hati Tuhan.
Dalam Maleakhi 3:10 Allah berfirman dan berjanji kepada mereka yang memberi dengan rela hati dan bersyukur:
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. “
Mulai hari ini kita mau mempersembahkan SIKAP HATI yang berkenan dan menyenangkan Tuhan dalam setiap hal yang kita perbuat, kita pikirkan dan ucapkan. Kita mau belajar dari hati Allah yang penuh kasih dan ketulusan dalam melayani anak-anakNya, kita semua. Biarlah Tuhan setiap waktu mendapati hati kita RELA , TULUS HATI dan penuh UCAPAN SYUKUR sehingga hari-hari dan masa depan kita penuh penyertaan dan berkat TUhan.
Tonton via YouTube:
Comments
Post a Comment