God Over Everything


God Over Everything

Photo by Matheus Bertelli

Bacaan: Keluaran 1:1-22


Kasus kriminal yang melibatkan beberapa personel POLRI, yaitu kasus pembunuhan Brigadir Yosua (Brigadir J), cukup memakan waktu untuk sampai kepada pengungkapan pelaku pembunuhan sekaligus motifnya. Setelah sekian lama akhirnya diketahui bahwa tersangka atau pelaku penembakan mendapat sebuah perintah dari atasannya untuk melakukan eksekusi penembakan tersebut. Sebagai seorang Polisi yang seharusnya melindungi rakyat dan hak-hak asasi manusia masyarakat, alih-alih menolak, sang tersangka lebih taat dan patuh kepada atasannya, sehingga peristiwa penembakan terjadi. Menjadi taat itu sebuah pilihan yang baik, tapi belum bisa dikatakan seutuhnya benar. Karena yang menjadi faktor penentu adalah kepada siapa kita taat. Menjadi taat kepada oknum yang salah akan mendatangkan kerugian bahkan membawa kita sebagai orang percaya jatuh ke dalam dosa. Lalu, bagaimana bentuk ketaatan yang benar sebagai anak-anak Tuhan?


  1. Milikilah hikmat kebijaksanaan dan pengertian dalam ketaatan (ay.8-11)


Dalam perikop bacaan hari ini, raja baru Mesir merasa terancam karena jumlah bangsa Israel sangat banyaklah jumlahnya. Untuk mengatasi persoalan ini, dalam ayat 10 dikatakan oleh raja baru Mesir: “Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka (bangsa Israel), supaya mereka jangan bertambah banyak lagi…”. Menarik di bagian ini sang raja mengambil keputusan dan membuat perintah yang ia pikir dan yakin adalah sebuah perintah yang bijaksana untuk diperbuat orang-orang suruhannya kepada bangsa Israel. Keputusan yang berhikmat, bijaksana dan penuh pengertian itu adalah modal seorang pemimpin. Orang-orang yang dipimpin olehnya pun sangat mengandalkan dan bergantung pada keputusan sang pemimpin itu. Akan tetapi, pada kenyataannya pemimpin yang tidak takut akan Tuhan ia  tidak memiliki hikmat yang benar dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, ketika kita sebagai orang yang dipimpin, kita wajib juga memiliki hikmat kebijaksanaan dan pengertian dalam ketaatan kita kepada pemimpin kita. 


Terutama kita sebagai anak-anak Tuhan, perlu pertimbangan apakah keputusan/perintah yang diberikan kepada kita itu benar dan sesuai dengan standar Tuhan. Bagaimana seorang anak Tuhan bisa beroleh hikmat yang benar untuk “memfilter” keputusan/perintah dari pemimpin kita? Mintalah hikmat itu kepada Allah sumber hikmat. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:5). Letakkanlah hikmat dan pengertian yang dari Allah di atas segala keputusan dan tindakan kita.


  1. Taat kepada Allah lebih daripada kepada manusia (ay.17-21)

Sifra dan Pua adalah dua orang bidan yang diperintahkan langsung oleh Raja Mesir untuk “menolong sekaligus membunuh”. Perintah aja Mesir ini wajib hukumnya untuk ditaati kedua bidan itu. Tapi yang bisa kita teladani dari kedua bidan Mesir ini adalah dikatakan pada ayat 17 “Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka”. Mereka mungkin takut kepada raja Mesir, tapi jelas mereka lebih takut kepada Allah. Apa yang dilakukan raja Mesir, bagi para bidan ini, jelas menentang perintah dan kehendak Allah. Oleh sebab itu, para bidan ini hanya melakukan hal yang benar: mereka memilih untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Karena ketaatan pada bidan ini kepada Allah, maka pekerjaan Allah atas bangsa Israel terus dapat dilanjutkan dan bahkan Allah pun memberkati bidan-bidan itu dengan memberikan mereka keturunan dalam rumah tangga mereka. Ketaatan bidan-bidan Mesir ini kepada Allah adalah ketaatan bagaikan seorang hamba kepada tuannya. Ketaatan kepada Allah inilah yang seharusnya melandasi semua bentuk ketaatan kepada pimpinan kita. Tunduklah di bawah kedaulatan Allah sebab Ia yang memegang kendali atas segala sesuatunya. Takutlah akan Allah lebih daripada kepada manusia. Dengan demikian Bapa kita di Sorga juga akan memberikan segala yang baik menurut kasih karuniaNya kepada kita anak-anakNya. Berkat dan janji-Nya tidak akan pernah jauh dari kita sepanjang kita meletakkan ketaatan kita pada firman, perintah, kehendak dan rencana-Nya seumur hidup kita.


Aplikasi:

  1. Bentuk ketaatan seperti apa yang selama ini saya tunjukkan di dalam lingkup keluarga, organisasi, pekerjaan dan pelayanan di mana saya berada?

  2. Situasi seperti apa yang sangat menantang bagi saya untuk menunjukkan ketaatan yang benar?

  3. Bagaimana saya dapat mewujudnyatakan ketaatan yang benar ketika diperhadapkan pada pilihan/situasi yang sulit itu?


“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.” Kolose 3:22 (TB)


Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati