The Unlimited Power

The Unlimited Power


Photo by Nacho Juárez from Pexels



Bacaan: Kejadian 12:10 - Kejadian 15: 21

Pujian:


Sejak pandemi Covid-19, hampir semua orang mengalami ketakutan, khawatir, paranoid, hopeless. Perasaan-perasaan ini membuat kebanyakan dari kita merasa tak berdaya, powerless. Karena siapapun bisa terinfeksi tidak pandang bulu. Siapapun bisa merasakan akibat dari pandemi, tidak pandang usia.


Gak jarang akhirnya banyak orang berusaha sekuat tenaga dengan kemampuan, akalnya, kekayaannya, kekuatannya, “untuk mengendalikan” situasi. Dengan apa yang kita miliki, kita jadi makin percaya diri kita bisa “make the situation under control”. Supaya tidak terinfeksi, beli item A-Z untuk proteksi diri; supaya tidak meninggal, hubungi dokter hebat dan minta dirawat di rumah sakit ternama; supaya masih bisa jalan-jalan, berani bayar sana sini supaya perjalanan dimudahkan atau coba-coba mengelabui dengan buat sertifikat vaksin palsu dsb. Karena pandemi, manusia terlatih untuk memecahkan masalah-masalah baru. Setelah berhasil memecahkan masalah yang bahkan belum pernah dihadapi dan akhirnya bisa menguasai keadaan, timbul kecenderungan manusia merasa tinggi hati dan merasa “serba mampu/serba bisa” untuk mengatasi persoalan apapun di alam semesta ini. Yang saat pandemi awal banyak berdoa ke Tuhan saking khawatirnya, tapi sekarang boro-boro berdoa lagi.


Ada lagi yang karena pandemi ini, karena tidak cukup punya kuasa dan kekuatan untuk mengatasi hal-hal yang terjadi, malah jadi menyalahkan banyak pihak mulai dari pemerintah, negara lain, orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan. Tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan Tuhan karena tidak bisa menguasai keadaan dan tidak mampu mengatasi kesedihan, ketakutan atau kemarahan. Bahkan ada juga yang lebih mengandalkan orang lain dengan kemampuan lebih atau kekuatan supranatural dengan hasil instan yang bisa menyelesaikan masalahnya. Jadi, mereka yang punya kekuatan hebat, menjadi sombong bisa menguasai keadaan, tapi mereka yang tidak punya kekuatan apa-apa menjadi menyerah atau menyalahkan keadaan. “Tidak bisa menguasai keadaan” membuat manusia menderita.


Sebenarnya, ada pelajaran berharga dari pandemi ini untuk semua umat manusia, bahwa baik manusia dan segala sesuatu di alam semesta, punya keterbatasan. Walaupun berkeyakinan bisa mengatasi infeksi Covid 19, tapi siapa yang bisa berkeyakinan varian baru seperti yang kita hadapi saat ini tidak akan muncul lagi? Atau siapa yang bisa mencegah dan meyakinkan bahwa tahun 2023 tidak akan ada masalah-masalah baru lagi di dunia ini? Tidak ada superhero, ilmuwan, pemimpin negara, ahli agama, cenayang, atau apapun yang hidup di muka bumi ini bisa mengatur kehidupannya apalagi mengatur kapan hari kematiannya. Pandemi Covid 19 menjadi satu momen untuk kita belajar bahwa ada kekuatan yang tak terbatas di luar kemampuan manusia, ada sesuatu yang lebih besar dari apapun yang mengatasi segala sesuatu di alam semesta ini, yaitu kedaulatan Allah.


Apa itu kedaulatan Allah? Kedaulatan Allah merupakan ketetapan Allah atas semesta yang meliputi banyak hal, baik peristiwa yang terjadi alamiah maupun rohaniah. Jadi, segala sesuatu di alam semesta ini tidak pernah lepas dari apa yang sudah ditetapkan Allah sejak semula dengan pengetahuanNya serta rencanaNya yang terbaik bagi setiap ciptaanNya. Perlu kita ingat, dalam setiap peristiwa yang terjadi pasti ada hubungannya dengan tujuan Allah menciptakan dan menopang segala ciptaanNya.


Kalau kedaulatan Allah adalah untuk kebaikan ciptaanNya termasuk manusia, lalu apa yang membuat manusia gagal melihat dan mempercayai kedaulatan/kemahakuasaan Allah atau bahkan tidak mengakui kekuatanNya lagii? Ada natur-natur manusia atau sifat-sifat alamiah manusia yang justru menghalangi kita dari perwujudan rencana Allah itu. Hari ini kita mau belajar dari rangkaian kisah Abraham sebagai contoh dari natur manusia yang menghambat kita mengerti kedaulatan Allah terhadap kehidupan.


  1. Natur manusia #1: Mengandalkan cara dan jalan sendiri.


Kejadian 12:10-20 (Abram di Mesir)

10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.

11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya:

13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.”

14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik,

15 sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.

16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.

17 Tetapi Tuhan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.

20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.


  • Dalam situasi kelaparan hebat di negeri yang Abram diami, Abram berusaha mencari solusi dengan cara dan akalnya sendiri. Seperti manusia lain pada umumnya, sulit untuk percaya dan mengandalkan Tuhan saat situasi amat buruk terjadi. Dalam kondisi sangat sulit, bukannya percaya dan mengandalkan Allah, Abram memakai caranya sendiri dan pergi ke Mesir.

  • Abram belum sepenuhnya percaya bahwa Allah yang memanggilnya menempati negeri yang dijanjikan Allah itu (Tanah Kanaan) akan sanggup juga memenuhi segala kebutuhan Abram. Mesir bukanlah negeri yang dijanjikan Allah dan bukanlah tempat yang direncanakan Allah untuk didiami Abram.

  • Saat diuji dengan tantangan yang masalah dan tantangan yang sangat berat, kita cenderung untuk berusaha mencari jalan keluar sendiri dan mengikuti kata hati kita sendiri yang dirasa dapat menjamin keberlangsungan hidup kita sendiri. Kita pikir jalan keluar itu tidak akan berdampak buruk, malah baik untuk kita.

  • Amsal 12:15: “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.”

  • Sekalipun di Mesir, Allah tetap melindungi dan memberkati Abram & keluarganya, tapi sesungguhnya akibat dari keputusan salah yang diambil itu akan mendatangkan masalah di kemudian hari.

  • Hagar, pelayan Sarai yang didapatinya saat masuk ke Mesir, menimbulkan masalah di kemudian hari dalam keluarga serta keturunan Abraham.

  • Abram pun di Mesir melakukan kesalahan dengan berbohong bahwa Sarai adalah saudaranya supaya nyawanya selamat. Abram tidak mempercayakan hidupnya, nyawanya, kepada Allah, melainkan kepada kekuatannya sendiri. Nyatanya, karena kebohongan itu, Allah murka dan mendatangkan tulah kepada Firaun dan seisi kerajaannya.


  1. Natur manusia #2: Membuat keputusan bagi diri sendiri


Kejadian 13:1-18 (Abram dan Lot Berpisah)

1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lot pun bersama-sama dengan dia

6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama

7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot.

8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: ”Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau,...”

9 …Baiklah pisahkan dirimu dari padaku.”

10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya,...

11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu

14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ”Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.

16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga.

17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”

18 Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi Tuhan.


  • 2 minggu yang lalu kita sudah belajar dari kisah Abram yang dipanggil Allah melalui pembacaan Kejadian pasal 12. Di situ sangat jelas firman Tuhan berkata kepada Abram, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”. Betul akhirnya Abram pergi, tapi kemudian Abram juga membawa sanak saudaranya termasuk Lot. Dari mulai pergi ke Mesir bahkan sampai ke Tanah Negeb yang kita baca barusan, Abram terus membawa Lot. hal ini jelas bertentangan dengan firman Tuhan kepada Abram supaya “pergi dari sanak saudaramu”.

  • Abram dengan mengandalkan pertimbangan dan mengambil keputusan sendiri, ia pun membawa Lot yang pada akhirnya kita sudah baca, ketidaktaatan Abram ini menimbulkan masalah dalam perjalanan Abram. Ada perkelahian antara orang-orang Abram dan Lot, bahkan akhirnya Lot jadi mendapat kesempatan untuk memilih daerah yang “kelihatannya seperti Surga” padahal akan membawa ia dan keluarganya kepada dosa, kejahatan dan maut.

  • Memang betul pada akhirnya Allah tetap memberkati Abram, karena dalam 2 Timotius 2:13 dikatakan: “jika kita tidak setia, Dia (Allah) tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Allah yang telah memanggil Abram dan membuat perjanjian dengan Abram, maka ia akan tetap setia pada janjiNya.

  • Bersyukur karena Abram akhirnya beroleh hikmat untuk mengambil keputusan berpisah, memberi kesempatan kepada keponakannya yang lebih muda itu untuk memilih bagian tanah yang dia inginkan terlebih dahulu, bahkan Abram mendirikan mezbah untuk Tuhan. Tapi kita lihat ada harga-harga yang harus dibayar karena ketidaktaatan itu dan karena keputusan yang berdasarkan keinginan diri sendiri itu.


  1. Natur manusia #3: Ragu jika tidak melihat dan mendapat bukti


Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya

15:1-21

1 Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: ”Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.

2 Abram menjawab: ”Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, …Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.”

4 Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya… anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”

5  Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman: ”Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: ”Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 

Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

7 Lagi firman Tuhan kepadanya: ”Akulah Tuhan, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.”

8 Kata Abram: ”Ya Tuhan Allah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” 9 Firman Tuhan kepadanya: ”Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.”

10 Diambilnyalah semuanya itu bagi Tuhan,

17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18Kis. 7:5 Pada hari itulah Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: ”Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini…





Sebagai orang percaya, Roh Kudus menolong kita untuk memahami bahwa pandemi ini telah ditetapkan Allah dalam hikmat kebijaksanaan-Nya demi tujuan-tujuan yang baik meskipun harus ada penderitaan. Karena ketika Tuhan mengizinkan penderitaan, akan selalu ada maksud baik di dalamnya bagi terwujudnya rencanaNya yang mulia. Penderitaan juga merupakan harga yang harus dibayar oleh orang percaya, artinya, penderitaan sebagai sesuatu yang wajar di dalam kehidupan orang percaya.



Kedaulatan Allah yang merupakan tindakan Allah yang adalah tujuan utamanya untuk Kemuliaan Allah. Supaya kita sadar bahwa Tuhan selalu izinkan kesulitan/masalah supaya kita bisa melihat peluang/kesempatan yang diberikan Tuhan bagi InjilNya, karena senantiasa ada pengharapan di dalam setiap orang percaya yang terpanggil bagi rencanaNya


Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati