Tidak Mampu atau Tidak Mau?

Tidak Mampu atau Tidak Mau?



Photo by Monstera from Pexels


Bacaan: Keluaran 4:1-17

Nas: ay. 2, 6, 12, 13


Saat dilahirkan ke dunia, ada berbagai peran, tugas dan kesempatan yang Allah berikan kepada manusia. Semua itu adalah bentuk panggilan dan pengutusan kita di dunia ini untuk mengerjakan segala sesuatunya dengan baik untuk kemuliaan Allah. Namun, berapa banyak di antara kita sering kali menolak untuk mengerjakan kepercayaan dan menolak kesempatan yang diberikan kepada kita, terutama kalau kita nilai panggilan itu berat, mustahil dilakukan, sulit diselesaikan, tidak sesuai kemampuan kita, bahkan kelihatannya mempersulit kehidupan kita. Apakah kita termasuk anak-anak Tuhan yang langsung mengatakan “Ya aku bersedia!” atau kita cenderung mengatakan “Aduh, aku kan gak bisa mimpin. Aku juga enggak gitu ngerti soal itu. Aku gak ahlinya. Yang lain aja aku skip!” Kalau kita cenderung mengatakan kalimat yang kedua (mencari-cari alasan untuk menghindar), apa yang kita alami tersebut mirip seperti respon Musa ketika Allah memanggil dan mengutusnya untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. “Where the heart is willing, it will find a thousand ways; where it is unwilling, it will find a thousand excuses” (Arlen Price). Berkali-kali Musa mengatakan (sejak pasal 3) ada banyak alasan rasional bahwa Musa tidak punya kepercayaan diri dan kemampuan yang cukup untuk mengerjakan yang Allah minta. Sehingga Allah perlu terus meyakinkannya. Dari kisah Allah memanggil dan mengutus Musa di perikop ini, sedikitnya ada 3 hal yang dapat kita pelajari tentang bagaimana meresponi panggilan Allah dalam kehidupan kita?


1. Milikilah keyakinan bahwa Allah yang memanggil juga memperlengkapi kita (ay.2)

Allah memberikan iman kepercayaan sebagai gift , sebagai modal utama untuk kita yakin dan percaya bahwa sekalipun kita orang yang ragu, tidak berani, bahkan tidak mampu, bukan siapa-siapa, tidak punya kehebatan, tapi Allah pasti akan memperlengkapi orang-orang yang dipilih dan dipanggil Allah untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Mengerjakan panggilan Allah itu penting, tapi mempercayai penuh siapa yang memanggil kita itu jauh lebih penting. Sederhana sekali, bahkan Allah hanya bertanya kepada Musa apa yang ada di tangannya. Hanya dengan tongkat, Allah memakai Musa untuk membuat bangsa Israel dan Mesir percaya, untuk memperlihatkan kemahakuasaan Allah, untuk melakukan mujizat Allah di tanah Mesir, membelah Laut Teberau, memukul gunung untuk mengeluarkan air, dan menunjukkan kemenangan dalam pertempuran. Sehingga tongkat itu kemudian disebut “tongkat Allah”. Allah sanggup memakai apapun yang kita miliki sekalipun sederhana, seperti Allah menggunakan apa yang ada di tangan Daud (kerikil & ketapel) untuk menumbangkan Goliat dan seperti Yesus menggunakan apa yang ada di tangan seorang anak laki-laki yaitu sebakul berisi 5 roti 2 ikan untuk memberi makan ribuan orang kelaparan. Allah tidak membutuhkan kita yang mampu karena Allah yang akan memampukan. God meets our needs. God is mighty. God is able. God provides. God will take care of everything. “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (1 Petrus 5:10).


*. Fokuslah pada Allah, bukan pada masalah yang (belum tentu) akan terjadi (ay. 4,6,9)

Terlalu sering kita akhirnya berkutat pada masalah yang belum terjadi karena faktor kekhawatiran dan ketidakpercayaan kita bahwa ada Allah yang berdaulat mengatasi diri kita dan masalah kita. Ketika Musa bertanya “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku?”, sebenarnya Musa sendiri sedang mempertanyakan kepercayaannya pada Allah yang mengutusnya melakukan suatu kemustahilan (bagi Musa). Dengan  2 mujizat yang Allah tunjukkan untuk Musa alami secara langsung, Allah ingin agar Musa terlebih dahulu percaya pada-Nya, fokus dan memandang Allah yang berdaulat ada besertanya. Penyertaan Allah saja sudah cukup bagi Musa, karena Ia yang akan menyertai jiwanya, menyertai mulutnya, menyertai langkahnya, juga menyertai segenap bangsa Israel untuk keluar dari Mesir dengan segala kelimpahan. Seharusnya, ketika kita sudah merasakan dan mengetahui panggilan Allah dalam hidup kita, maka bagian kita adalah memandang-Nya. Tantangan kita ke depan dalam mengerjakan panggilan Allah baik di sekolah, di organisasi, di keluarga, di pekerjaan dan di manapun mungkin akan sangat besar dan berat, tapi saat kita memandang pada Allah maka kita akan sadar bahwa Allah kita lebih besar dari masalah dan tantangan itu. Segala perbuatan tangan Allah, kebaikan, pertolongan, mujizat dan pekerjaan Allah sepanjang hidup kita, sudah menjadi bukti yang kuat bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah kita. Ia akan meneguhkan hati kita, menyertai kita, berjalan bersama kita melalui tantangan itu. “Lihat, Aku meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan semangatmu melawan ketegaran hati mereka” (Yehezkiel 3:8).


 3. Bersedialah kapan pun Allah mengutus kita (ay.13)

Kita ketahui pada akhirnya, alasan utama Musa bertanya-tanya terus kepada Allah dan memberikan berbagai alasan kepada-Nya, bukan karena dia tidak mampu, melainkan karena ia tidak mau (ay.13). He isn’t UNABLE but UNWILLING . Allah tidak murka kepada Musa ketika Musa bertanya-tanya dan memberikan alasan tidak mampu. Tetapi Allah murka begitu Ia mendapati Musa tidak mau. Pada akhirnya, Allah “menghukum” Musa dengan membawa Harun untuk menemani Musa mempimpin bagsa Israel. Setelah satu, dua, tiga mujizat dan panjangnya penjelasan Allah kepada Musa, namun Musa tidak taat dan dengan berani menunjukkan ketidakmauannya. Maka, murka Allah bagkit terhadapnya. Bersyukur kemudian Musa bersedia menjalani panggilan ini. Saat ini, berapa banyak tanda yang kita perlukan agar kita percaya dan taat pada panggilannya sehingga kita merespon: “Ya Tuhan saya bersedia.”? God is not interested in your ability, He's interested in your availability! Allah tidak tertarik pada kemampuan kita sebab Ia yang menciptakan kita tentu tahu dengan persis spesifikasi apa yang ada pada kita ketika Ia memberikan kita kehidupan. Allah tertarik pada kemauan kita. Sesungguhnya, perlulah kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang berhutang kepada Allah oleh karena kehidupan yang Ia berikan pada kita dan pengorbanannya di kayu salib untuk menebus kita. Sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau meresponi panggilan Allah bagi kita untuk mengerjakan pekerjaanNya di dunia ini, untuk menyatakan pekerjaan Allah yang mulia bagi orang-orang sekitar kita dan untuk menyatakan nama Allah yang mulia bagi banyak jiwa yang belum mengenal-Nya. Bersiaplah dan bersedialah untuk diutus Allah.


Aplikasi:

  1. Situasi apa yang menjadi penghambat saya untuk meresponi panggilan Allah?

  2. Bagaimana respon saya selama ini terhadap panggilan Allah dalam hidup saya?

  3. Dalam panggilan untuk pekerjaan pelayanan Allah, sikap apa yang perlu saya perbaiki dan miliki?



”Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: ”Ini aku, utuslah aku!” Yesaya 6:8



Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati