Kompromi
Kompromi
Bacaan: Kejadian 19:1-29
Nas: ayat 1, 8, 17
Kompromi adalah upaya menemukan kesamaan untuk mencapai kesepakatan bersama. Meski begitu, pengertian kompromi juga bisa dilihat dari sisi negatif. Penerapan kompromi yang keliru bisa membuat kita bersikap tidak setia pada nilai dan keyakinan dasar, seperti menggadaikan prinsip untuk mencapai tujuan yang pendek. Jika dilihat kehidupan Lot dari sejak pergi bersama Abraham sampai tinggal di kota Sodom nampaknya serba beruntung. Namun, kita perhatikan akhir hidupnya Lot, ia dan keluarganya hancur. Apa yang menyebabkan akhir hidup Lot jadi seperti ini? Karena Lot terus berkompromi dengan dunia. Lot selalu berusaha berkompromi karena ia pikir tindakannya itu menjamin nyawanya terselamatkan dan memberikan keuntungan bagi keluarganya. Tidak jarang pengikut Kristus juga terperangkap dengan hal serupa: “Mengikut Yesus ‘YES’, mengikut dunia pun ‘YES’, yang penting bisa diatur, bisa dikondisikan, tidak ada yang merasa dirugikan”. Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari pola pikir demikian?
1. Hindarilah pergaulan yang menyesatkan (ayat 1)
Lot merupakan salah satu orang penting sehingga ia bisa duduk di pintu gerbang kota Sodom. Tetapi, untuk beroleh kedudukan dan hidup nyaman, Lot berkompromi dan ia rela mengorbankan diri untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak percaya di kota Sodom. Namun justru komprominya ini mencemarkan keturunannya dan membawa maut bagi keluarganya. Hindarilah pergaulan yang buruk karena berpotensi merusak kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33-34). Setialah pada kebenaran Tuhan, peliharalah hidup kudus, pakai standar Tuhan untuk hidup kita bukan pakai standar dunia dan menurunkan standar Tuhan. Jangan sampai kita terlena untuk berkompromi dengan pergaulan dunia yang menyesatkan dan menduakan Allah demi memperoleh kesia-siaan.
2. Korbankanlah kedagingan, bukan kehidupan kita (ay.8)
Lot dengan mudahnya merelakan kedua putrinya kepada warga Sodom demi untuk keselamatannya sekaligus melindungi tamunya. Pengorbanan yang keliru dan tidak berhikmat. Seringkali kita gagal memandang berharga anugerah Tuhan, termasuk hidup kita, dan rela mengorbankannya demi menjadi serupa dengan dunia. Relakanlah kedagingan yang akan menjauhkan kita dari Allah, bukan mengorbankan kehidupan untuk menjadi budak dosa. Roh Kudus memampukan kita “mengorbankan dan melepaskan” sesuatu yang memang salah dan tidak patut dipertahankan.
3. Perhatikanlah di mana hati kita berada (ay. 17)
Sodom adalah comfort zone bagi Lot. Lot tidak rela meninggalkan semua yang sudah ia raih dan miliki sehingga di kota Sodom lah hati Lot dan istrinya berada. Makanya Lot berlambat-lambat, isterinya menoleh ke belakang, bahkan Lot menawar untuk lari ke Zoar saja. Ketika kita terpaut dengan kenikmatan dunia, maka di situ juga hati kita berada (Mat 6:21). Perhatikanlah di mana hati kita berada? Kalau kita memandang Allah & pengorbananNya sebagai sesuatu yang berharga bagaikan batu permata dan harta yang tak ternilai, maka pada Allahlah hati kita berada sehingga kita tidak rela untuk melepaskan dan menukarkannya dengan apapun juga.
Mari berhenti berkompromi dengan dosa/dunia dan “menggadaikan Tuhan” demi keinginan, kehendak dan kepentingan kita sendiri. Tidak ada kompromi antara perbuatan benar dan dosa. Ketika kita berpadanan dengan kebenaran Allah dan hidup melekat kepadaNya, kita akan mampu mengambil sikap yang tegas terhadap dosa.
Aplikasi:
1. Dalam hal apa saja saya cenderung berkompromi terhadap pelanggaran?
2. Sikap apa yang ingin saya perbaiki dalam upaya untuk menjauhkan diri dari potensi kompromi terhadap hal-hal duniawi?
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)

Comments
Post a Comment