Guided by God

Guided by God




Photo by James Wheeler via Pexels.com



Bacaan: Keluaran 14:17-22

Nas: ay. 22 


Di zaman yang serba instan saat ini, tidak sulit bagi kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Terutama hal-hal yang kita perlukan sehari-hari seperti makanan, minuman, transportasi, pakaian, uang dsb bisa kita dapatkan dalam waktu singkat melalui berbagai layanan siap saji, e-commerce bahkan pinjol. Secara tidak sadar, kemudahan ini membentuk pola pikir manusia bahwa segala sesuatu “mungkin” untuk didapatkan dengan instan, dalam waktu cepat. Bahkan saat ini, daya juang dan usaha/kerja keras yang memakan waktu lama jadi “barang langka”.


Oleh karena itu, akhirnya banyak bermunculan oknum-oknum yang menawarkan “jalan pintas” bagi mereka yang ingin dengan instan mendapatkan kekayaan, kekuasaan, popularitas, kenyamanan, bahkan keselamatan dengan cara yang salah dan bertentangan dengan Firman Tuhan. “Kalau ada jalan tol, kenapa harus jalan memutar?” Walaupun harus pakai cara yang tidak benar pun, dianggap tidak apa-apa asalkan bisa cepat dapat apa yang diinginkan. Tawaran dunia ini menjerat siapapun yang menginginkannya, tidak terkecuali anak-anak Tuhan. Anak Tuhan pun tidak dijamin kebal terhadap tawaran ini.


  1. Mencontek di kelas/mencuri kunci jawaban

  2. Berbohong untuk mendapatkan sesuatu tanpa perlu usaha

  3. Memanipulasi pekerjaan supaya dapat nilai terbaik dan dihormati

  4. Korupsi agar cepat dapat uang yang banyak

  5. Menipu orang lain agar bisa dapat keuntungan lebih

  6. Memfitnah orang lain supaya bisa memperoleh kedudukan

  7. Pakai jimat/santet untuk mendapatkan kekuatan dll


Memang jalan pintas itu terlihat dan mungkin akan terasa menyenangkan. Akan tetapi, betulkah jalan seperti itu adalah jalan yang Allah berikan? Apakah Allah beserta dengan kita di jalan-jalan semacam itu?


Mari kita baca bagian Alkitab hari ini yang terambil dari Keluaran pasal 13:17-22. Kisah ini adalah kelanjutan dari kisah Musa yang Tuhan utus untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir selama 430 tahun lamanya, dan Allah dengan kekuatan-Nya mendatangkan 10 tulah kepada Raja & rakyat Mesir. Hingga akhirnya, Firaun mengusir bangsa Israel. 


__________________________________________

Melalui perikop yang kita baca hari ini, kita dapat melihat bahwa penyertaan Allah bagi umat Israel tidak berhenti hanya sampai ketika bangsa itu keluar dari tanah Mesir. Allah tidak hanya sekedar membebaskan umat-Nya, tapi juga menentukan arah langkah mereka bahkan berjalan bersama mereka untuk menuntun umat-Nya.


Ada dua jalan yang dimaksud Allah yang bisa dilalui oleh bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian, Kanaan. Yang pertama: JALAN UTAMA , yaitu jalan terdekat (400 KM)



Yang kedua adalah JALAN MEMUTAR.


Agar bangsa Israel bisa segera sampai di Kanaan, sebenarnya bisa saja melalui jalan cepat itu. Akan tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Ada 3 hal yang bisa kita pelajari dari perikop hari ini tentang bagaimana Allah menuntun dan menyertai umat-Nya di dalam jalan-Nya.


1. Allah memperhitungkan jalan yang akan kita lalui (ay.17-18)

Jalan tercepat yang sebenarnya bisa dilalui bangsa Israel rupanya bukan jalan yang tepat MENURUT PERTIMBANGAN ALLAH. Allah memperhitungkan tantangan yang akan dilalui bangsa Israel apabila mereka melewati negeri orang Filistin, bahwa bangsa Israel belum siap dan belum cukup kuat untuk berperang melawan orang-orang Filistin yang terkenal kejam. Sebab itu Allah membawa bangsa itu berputar melalui jalan lain di mana Allah akan menyertai.


Yeremia 10:23

“Aku tahu, ya Tuhan, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”


Di sini kita dapat mengenal bahwa Allah adalah Tuhan yang berdaulat atas langkah-langkah manusia. Seringkali kita tergiur untuk mengambil jalan pintas demi kepentingan sendiri, tanpa bertanya dan melibatkan Tuhan. Padahal, Allah adalah jalan itu sendiri yang sanggup membawa kita kepada tujuan dengan berlandaskan kebenaran. Allah memperhitungkan jalan yang seharusnya kita tempuh. Jalan kita bukanlah jalan-Nya, apa yang kita pikir baik cepat dan menguntungkan tidak berarti jalan yang “aman” menurut Allah. Percayalah bahwa Allah yang paling tahu bahwa kalau kita melalui jalan pintas itu, kita bisa saja terjatuh dan gagal mencapai tujuan kita. He shows us not the nearer, but the safer way! Dia membawa kita ke jalan yang berputar karena Allah kita adalah kasih, ia tidak mencobai kita melebihi kekuatan kita:


1 Korintus 10:13

“…sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”


Jalan memutar justru harus disyukuri sebagai sebuah kesempatan dan karunia Allah untuk kita menghindarkan diri dari kesesatan, untuk mempersiapkan lebih baik agar sampai tujuan yang sesuai dengan kehendak Allah dan untuk diproses oleh Allah menjadi lebih tahan banting, tahan uji, dan pada akhirnya berkemenangan di dalam Tuhan.


2. Allah berjalan di depan menuntun kita (ay.21)

Menuntun adalah kata kerja aktif yang dalam KBBI memiliki arti: membimbing (dengan menggandeng tangan), menunjuk (mengarahkan) ke jalan yang benar. Allah tidak hanya sekedar menunjuk-nunjukkan atau memerintahkan umat-Nya untuk pergi ke sana, ke sini, tanpa arahan atau tanpa petunjuk. Bangsa Israel tidak dibiarkan-Nya berjalan sendiri seperti domba tanpa gembala, tapi Allah sendiri turut berjalan menuntun langkah bangsa Israel di depan mereka dalam tiang awan pada waktu siang sehingga mereka tidak kepanasan dan dalam tiang api sehingga jalan mereka terang di dalam kegelapan. Bagi Allah, penyertaan-Nya secara langsung kepada umat yang dikasihi-Nya adalah bentuk kasih dan kesetiaan-Nya yang tidak dapat digantikan oleh apapun.


Keluaran 14:13-14

“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan… Tuhan akan berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja.”


Banyak orang yang kelihatannya menikmati jalannya yang sukses, di atas, tidak pernah tersandung, bahkan berkelimpahan tapi hidup mereka tidak di dalam penyertaan Tuhan. Sehingga mereka tidak berdampak, tidak menghasilkan buah yang baik bagi sesama, bahkan bukan saja menjadi batu sandungan bagi orang lain tapi mendatangkan kutuk ke dalam hidupnya. Percuma saja memiliki segala sesuatunya di dunia ini tanpa penyertaan Allah, semua menjadi tidak bermanfaat dan sia-sia. Bukan jalan seperti itu yang kita cari, mintalah kepada Allah memberitahukan jalan-Nya kepada kita, di mana Allah menuntun dan membimbing kita.


Keluaran 33

11 Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya…

13 “Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.”

14 Lalu Ia berfirman: ”Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.”

15 Berkatalah Musa kepada-Nya: ”Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.



3. Allah hadir bersama kita (ay.22)

Allah kita adalah Allah Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita”. Ketika bangsa Israel dalam pengembaraan dan di tengah-tengah lingkungan alam yang baru serta penuh tantangan dan ancaman, Allah setia hadir dan berada bersama mereka. Dikatakan “Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada..di depan bangsa itu”, Allah terus menerus ada bersama-sama dengan mereka. Betapa ajaib dan luar biasa Tuhan kita, bahkan di saat ini ketika kita diperhadapkan pada bermacam-macam pencobaan, masalah, tantangan, musibah, kesulitan apapun, Allah yang sama yang menyertai bangsa Israel juga ada bersama kita dengan kasih setia-Nya menemani kita “dengan tidak beralih.”


Imamat 26: 12-13

“Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. 13 Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak.”


Ketika banyak orang-orang di sekeliling kita pada akhirnya kalah dengan ketakutan dan tawaran-tawaran dunia yang terlihat menjanjikan memberikan kelegaan dan penghiburan yang fana, kita mau percaya bahwa sekalipun Allah menuntun kita ke jalan yang sulit, berputar, dan penuh tantangan, akan tetapi Ia akan selalu ada menopang kita, memberi kita kekuatan melalui jalan itu, membekali kita dengan segala karunia, bahkan menghadirkan orang-orang di sekitar kita untuk menolong kita melalui kesukaran dan perjuangan-perjuangan kita. Teruslah bersandar kepada kekuatan-Nya, berpegang pada firman-Nya, dan hidup berkenan kepada-Nya.


Mazmur 37:23-24

“Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”



Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati