Menikmati Penyediaan Tuhan

 Menikmati Penyediaan Tuhan

Photo by RODNAE Productions


Bacaan: Keluaran 16:1-18 Nas: ayat 3, 4, 16


Kalau kita lihat dari bacaan hari ini, umat Israel mengeluh dan bersungut-sungut sehingga mereka kehilangan sukacita. Padahal di pasal sebelumnya, mereka amat bergembira dan bersukacita karena Allah meluputkan mereka dari kejaran prajurit Mesir ketika mereka menyeberangi Laut Teberau. Sukacita mereka hilang tergantikan dengan kekhawatiran akan mati kelaparan karena persediaan makanan mereka semakin menipis. Mereka tidak lag mengucap syukur sekalipun mereka telah melihat kemahakuasaan Allah yang terus menyertai dan menyediakan pertolongan bagi mereka. Akibatnya, sukacita mereka pun luntur. Dikatakan dalam sebuah quotes:


”It is not the joy that makes us grateful, it is gratitude that makes us joyful.” - David Steindl-Rast 


Mari sama-sama kita belajar 3 prinsip dari firman Tuhan yang kita baca tentang:


Bagaimana Tuhan menginginkan kita menikmati penyediaan-Nya?


1. Ubah sungut-sungut menjadi ucapan syukur (ay.2-3)

Bangsa Israel tahu persis bagaimana mengucap syukur (pasal 15), namun ucapan syukur dengan cepat berubah menjadi sungut-sungut ketika terancam mati kelaparan. Alih-alih bisa dapat solusi, sungut-sungut mereka hanya memperburuk situasi bahkan mereka menghabiskan energi untuk membanding-bandingkan dan menjadi skeptis.


Perlu kita pahami, bahwa Tuhan sungguh punya kemampuan, kuasa, kedaulatan bahkan tahu persis bagaimana mencukupkan kebutuhan manusia & memelihara ciptaannya. Sekalipun manusia tidak meminta, bahkan hingga bersungut-sungut/komplain pun, ketika Allah mau menyediakan maka tidak ada yang bisa menghalanginya. PenyediaanNya tidak tergantung kepada manusia atau faktor apapun, melainkan karena “Ialah Tuhan, Allah kita.” Bersyukurlah karena Allah itu sendiri, bukan hanya karena berkatnya.


Untuk diingat oleh anak-anak Tuhan, karunia Allah bukan sekedar berkat materi saja, melainkan _kemampuan kita meresponi penyediaan Allah dalam segala situasi_ juga merupakan karunia dari Allah (Pkh. 5:18). Sia-sia bila kita dikaruniai berkat melimpah, tapi tidak dikaruniai cara bersyukur dan mengelolanya. Maka, mintakanlah kepada Allah bukan saja penyediaan itu, tetapi mintalah kepada-Nya agar kita dikaruniai hati yang bersyukur dan pikiran yang berhikmat.


2. Lihat cara Tuhan menyediakan & menyertai kita (ay.4-6)

Bangsa Israel berharap Tuhan mengenyangkan mereka dengan “kuali berisi daging & roti” seperti di negara ‘mantan’. Padahal sesungguhnya, keselamatan, mujizat, perlindungan, harta benda, jalan keluar, kebebasan, status baru, harapan dan _24/7-guidance_ yang Tuhan anugerahkan kepada bangsa Israel, sudah merupakan bukti nyata bahwa Tuhan tak pernah tak sanggup untuk menyediakan apapun bagi mereka. Tidak ada alasan bagi bangsa Israel untuk meragukan kuasa Allah.


Burung saja Tuhan pelihara (Mat. 6:26), bahkan bunga/rumput saja sanggup Tuhan hiasi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan (Mat.6:28). Apalagi manusia ciptaan-Nya yang jauh lebih berharga dari ciptaan lainnya. Berhentilah membatasi cara penyediaan Tuhan dengan pikiran manusia yang terbatas, namun percayalah bahwa penyediaan Tuhan selalu datang baik dengan cara yang terduga bahkan hingga yang tak terduga dan pada waktu yang Tuhan anggap baik bagi kita.


Lihatlah dan rasakan kemuliaan Tuhan melalui penyediaan Tuhan sudah nyatakan dalam hidup kita. Mungkin, karena tidak pernah menyadari dan tidak punya waktu untuk mengagumi pekerjaan Tuhan, kita _underestimate_ Tuhan dan menyangka Ia tidak menjawab doa dan mencukupkan kebutuhan kita. Padahal, jauh lebih banyak dari yang kita butuh dan minta, telah dan sanggup Allah berikan.


3. Usahakan & kerjakan bagian kita (ay.16-18)

‘Hujan roti’ dan ‘burung puyuh’ dari Allah tidak serta merta didatangkan dalam bentuk siap saji. Kalau Allah menghendakinya, Ia bukan tidak sanggup. Selain Allah ingin mengajari kita bahwa Ia Allah yang menyediakan, tetapi Ia juga mengajarkan kita hal lain yaitu turut bekerja bersama Allah dalam rangka memenuhi kebutuhan kita sendiri. Artinya, perlu ada kerja sama & hubungan saling melibatkan antara Tuhan & manusia.


Umat Israel diperintahkan untuk mengambil roti itu, membagikannya sesuai kebutuhan, mengumpulkan, mengolahnya setiap hari. Manna tersedia di pagi hari, mereka perlu bekerja pagi-pagi mengumpulkannya. Burung puyuh tersedia di hari petang/sore, dan kembali mereka perlu bekerja, tidak pandang status sosial, ikut mengumpulkannya menurut kebutuhan mereka.


Tuhan tidak ingin kita hanya menunggu-Nya bekerja bagi kita, tapi ada bagian yang perlu kita kerjakan juga sebagai pihak yang disediakan. Dalam segala hal, ketika kita menginginkan sesuatu maka perjuangan dan kerja keras menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemerolehan kebutuhan itu (Mat. 7:7-8).


Proses ini juga yang kemudian mengajarkan kita untuk bergantung penuh kepada Tuhan, Allah yang menyediakan. Relasi kita dengan Allah menunjukkan seberapa dekat kita mengenal-Nya dan seberapa besar kita mau menaruh kepercayaan kita kepada-Nya yang sanggup menjamin kehidupan kita. Hingga kita sadar bahwa kita tak bisa hidup tanpa Tuhan (Ul. 8:3) dan Ia mau hidup di dalam kita.


Aplikasi:

1. Apa 3 wujud penyediaan Tuhan yang saya syukuri pada hari ini?

2. Bagaimana saya melatih diri saya untuk menghindari sikap sungut-sungut?

3. Bagaimana saat ini saya dan Tuhan saling melibatkan dalam pemenuhan kebutuhan saya?


“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” - Ibrani 13:15


Comments

Popular posts from this blog

Hakikat Melayani

Kerendahan Hati & Pemeliharaan Allah

Vaksin Anti Iri Hati